Ngramban Untuk Makan Jelang Ramadhan



Aku teringat pengalaman sedih setiap jelang Ramadhan. Pengalaman yang masih membekas dalam pikiran saat berusia belasan.

Di saat tetangga sekitar rumah menyambut Ramadhan dengan suka cita, justru keluargaku menelan ludah. Orang-orang itu menyambut Ramadhan dengan menyiapkan makanan yang mewah.

Kebetulan, saat itu bapak tidak ada pekerjaan. Proyek-proyeknya tidak menghasilkan untung dan bahkan “nombok”.

Sehingga kami tidak punya makanan apa-apa saat mau puasa pertama. Padahal di tahun-tahun sebelumnya, kami selalu gembira ketika Ramadhan tiba.

Sebut saja menyambut Ramadhan dengan masak daging, menyiapkan buah-buahan, dan lainnya. Tahun itu justru memang sangat berbeda.

Lauk pauk pun tidak tersedia. Raut kesedihan terpancar di wajah.

Beruntungnya, ada rawa-rawa di belakang rumah. Rawa-rawa itu banyak kangkung yang tumbuh liar.

Aku dan kakak masuk ke dalam rawa-rawa tersebut. Kami “ngramban” kangkung jelang Ramadhan.


Di saat orang-orang makan daging, kami hanya makan kangkung. Itu pun direbus saja.

Kami sahur pertama dengan makan kangkung rebus. Tapi tetap antusias menjalankan ibadah.

Akhirnya, aku punya tekad tidak akan mengalami hal yang sama. Keluargaku tidak boleh sedih lagi jelang Ramadhan.

No comments